Alumni 1984 SMA Negeri 1 Solo

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home

From Solo with Laughs, Ger-geran nang Laweyan

E-mail Print PDF

 Para kanca sadaya....

Ini adalah laporan pandangan mata pelaku sejarah yang nyata-nyata telah mengalamai hal-hal yang menyenangkan nan tak terlupakan dalam tempoh yang sesingkat-singkatnya pada pertemuan 22 Mei 2009. Laporan pribadi, tidak mengandung panitia. Apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, tanggung jawab ada pada masing-masing mata yang membaca laporan ini. Kejadian diusahakan sesuai dengan fakta, bukan gosip. Jika ada nama tokoh cerita yang mirip dengan anda itu memang disengaja. Mohon maaf jika ada ejaan nama yang menyimpang. Selanjutnya terserah anda....

 

Alkisah.... tim maung Bandung dengan gagah berani semangat Bandung Lautan Sampah eh...Lautan Apih....mulai merapat ke arah Solo pada jam 7:30 Kamis sore, waktu Indonesia bagian mBandung dengan dipimpin komandan Nopiek dan anggota pasukan Atok, Eddy dan Gepeng. Sayang sekali salah satu anggota pasukan, yaitu Benz, mengundurkan diri pada detik-detik terakhir dengan alasan yang bisa diterima akal. Berbagai strategi dan persiapan lainnya sudah matang untuk dipresentasikan. Mendekati kota Kartosura pada jam tujuh pagi  , konsolidasi dini (bukan ejakulasi dini...) segera dilakukan. Mendapat pasokan data intelijen internal yang dikepalai oleh Jangkung, bahwa penguasa mBanten khususnya Cilegon, mulai menjadi saudagar di Solo, beliau Hendy 'Mugabe' segera dikontak. Beliau ditodong dan ditugasi untuk memfasilitasi sebuah pertemuan pendahuluan dengan tim kecil tuan rumah Solo yang terdiri dari Blonthank dan Koji. Disepakati jam 8:30 semua pihak berkumpul di RM Barokah Kartosauro dengan spesialisasi Soto Babatnya. Diskusi serius penuh canda tawa diselingi sarapan dilakukan sampai sekitar pukul 10:00. Hasil pertemuan : Tidak Ada yang serius, hanya selembar bon dengan total kerusakan sekitar 160 rb karena dilahapnya 14 mangkok soto, 2 piring gongso babat, beberapa iso goreng (Eddy sing paling okeh...), krupuk, sate, telor, beberpa gelas teh manis, es teh dan es jeruk. Nggragas tenan.......!!!

Setelah klenger - kewaregen, tim maung Bandung segera menuju ke tempat perisitirahatannya  di daerah nDawung untuk mengumpulkan tenaga pada agenda utama kemungkinan pergulatan dengan Tutik, maksudnya di rumah Tutik... malam harinya. Belum juga mendarat ke markas, komandan pasukan Nopiek sudah mendapat pesan top secret : Tim maung Bandung ditunggu kehadirannya di Markas Utama Komando Persija (Perkumpulan Pengungsi Solo di Jakarta)  di sebuah tempat rahasia di daerah Colomadu. Jam 2 siang, jangan sampai telat ! Komandan langsung memberikan instruksi : siapkan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Siaaap ! Usai melaksanakan ibadah shalat Jum'at, tim maung Bandung segera menuju ke lokasi pertemuan. Tak lupa tim mampir ke salah satu warung Tahu Kupat yang berada di sekitar Pasar Kembang, untuk mencoba 'kemaknyusan' tahu kupatnya. Sambil megap-megap masih kepedesan tim langsung cabut untuk mendatangi lokasi. Rasa kepedesan menambah semangat berjuang...

Pukul 14:15 tim maung Bandung tiba di 'target area', secara kebetulan bersamaan dengan salah satu striker Persija, denmase Isnadi. Juga kemudian hadir beberapa pasukan penjaga perdamaian dari Solo : Haris Jojon, Blonthank. Kaget juga dengan kehadiran Al Mukarom Al Ustadz Rudi 'Jambul' Noviardi Al Fayakumbuhi yang sengaja hadir untuk siap memberikan tausiyah-tausiyah yang diperlukan. Hati jadi adem, akhirnya ada juga yang bisa dijadikan pegangan (terutama jenggotnya sing mlungker-mlungker kuwi).

Diskusi adu argumentasi untuk mencapai titik temu segera dimulai. Di bawawah naungan Joglo nan asri....Semangatnya tetap untuk mendapatkan yang terbaik untuk kesuksesan Reuni Perak nanti. Setelah adu pendapat dan adu jotos, akhirnya semua peserta mencapai titik klimax dan berangsur-angsur kelelahan. Teler. Dengan lihai nan bijak, sang tuan rumah Ferry segera memanggil dayang-dayangnya. "Nduk... ndang ditokake kopine.... Nduk ... tokno mendoane, sukun gorenge. Nduk... keluarin es dawete, fanta dan coca colanya. Nduk... pijet..... Huss kuwi mengko wae....!!  Nampaknya prediksi Ferry memang benar, hangatnya mendoan tempe, gurihnya sukun goreng, primanya adonan kopi hitam, lezatnya es dawet mampu mendingikan hati dan suasana. Mencairkan kebekuan ego diri. Dan pada hemat kami..., pada gilirannya.... bisa segera menyamakan persepsi, menyingkirkan kerikil-kerikil sandungan. Sepakat untuk segera bekerja sama. Bersama kita bisa,  dengan lebih cepat dan lebih baik, dalam skala yang mega secara pro. Lanjutkan...!

Dasar menungso yang suka katrok.....banyak pikiran negatif bin ndak pernah puas (seperti mas Gacuk yang sering ndeketin dr Setyo nanyain dosis Cialis yang tepat supaya bisa terus poewassss...). Akhirnya timbul pikiran jahat, kotor dan negatif. Yen mung koyo ngene kok ora cucuk... adoh-adoh saka mBandung lan Jakarta kok mung koyo ngene... ora gayeng. Kudu ono sing dadi korban. Setyo kudu dadi korban, Gacuk apa lagi. Pokoknya semua pasukan Solo yang nggak dateng di markas Colomadu harus jadi korban. Oknum pasukan Solo yang hadir di Colomadu pun dengan gembira nan semangat  terlibat dalam kolaborasi nakal ini. Pak Ustadz Rudi Jambul pun tak kuasa menahan godaan, ikut terlibat juga. Malah beliau mendapatkan peran kunci sebagai gong dalam sandiwara besar yang akan ditampilkan malam itu di Padepokan Adityan, Laweyan kagunganipun mbak Tutik.

Aksi dimulai.... semua segera menebar kabar burung panas. Menyalakan kompor...! Blonthank segera kontak dengan dr Setyo yang mewanti-wanti supaya segera hadir di tempat acara karena suasana masing sangat tidak kondusif apalagi denga kerasnya suara Atok. Supaya bisa menengahi pertemuan nanti dengan sangat bijak dan netral supaya tidak timbul huru hara. Ibu-ibu yang bertugas pada acara supaya berhati-hati akan kemungkinan timbulnya hal-hil yang tidak diinginkan. Bu dokter Dewi segera dikontak untuk segera datang dengan meninggalkan pasien-pasienyang masih antri. dr Seto terburu-buru meninggalkan pasien sampai lupa mencabut 'suntikannya' yang masih menancap dengan keras pada pasiennya. Gacuk langsung dikontak untuk bisa menertibkan situasi apalagi dengan ancaman dari Nopiek yang akan segera kembali ke Bandung karena merasa sudah hampa, hancur dan kosong hatinya. Siap, hormat. Mas Nopiek tulung ya jangan pulang dulu.... bersama kita bisa menyelesaikan permasalahan ini.

Jum'at jam setengah tujuh malem. Suasana padepokan Adityan di jl Sidoluhur, Kampung Wisata Batik di Laweyan nampak mulai sumringah. Berseri seperti Solo. Boloduphak Solo sudah siap menyambut kedatangan temen-temen dari Bandung, Jakarta, dan Solo sendiri. Situasi hangat, terkendali dan waspada. Pesan rahasia telah mereka terima, kemungkinan akan terjadi huru-hara, goro-goro nampaknya bukan isapan jempol belaka, namun sudah isapan lima jari sekaligus. Namun ternyata semua memang telah diantisipasi. Bak seorang ibu yang penuh kasih sayang ingin menciptakan suasana perdamaian, guyub, saling hormat-menghormati, saling menyayangi diantara anka-anaknya, dengan kebijakan tinggi Jeng Tutik sebagai tuan rumah tidak kehilangan akal sehat nan bijak cerdik pandai. Ternyata beliau telah mendatangkan satu tim pasukan Wedangan ke halaman padepokan. Full loaded,  full capacity of Wedangan. Amazing. Wedangan lengkap dengan dingklik panjang di depan meja operasional yang penuh dengan aneka sajian menggoda selera : Sego kucing, sego sambel, sego oseng, bihun, tinggal pilih. Aneka lauk mulai dari tahu bacem, kikil empuk dan alot, sate sapi, sate udang, tempe tahu goreng, jadah, pisang goreng, krupuk lainnya. Namun nampaknya semua sepakat, yang paling enak adalah kacang nya Tutik. Maksudnya kacang goreng asin khas wedangan yang disajikan di rumah Tutik itu.. Tim wedangan dengan tiga orang krunya siap meladeni aneka kombinasi minuman pesanan hadirin. Panas - Dingin. Wedang jahe, teh susu, jahe susu, kopi jahe sampur tape ketan... wis sak karepmu pesene opo... Ternyata strategi ini cukup berhasil. Indra keenam jeng Tutik bekerja dengan baik. Prediksinya tepat, hanya dengan wedangan lah poro bolo duphak itu bisa sedikit dijinakkan. Semua menikmati. Semua terlena walau hanya sementara.

Waktu yang dinantikan tiba. Semua mulai siaga, mulai memasang kuda-kuda. Nampak wajah-wajah terlipat, kusut masai penuh ketegangan. Semuanya ja-im. Terutama geng Jakarta dan Bandung. Persis sesuai pesanan. Setelah moderator dr Setyo tiba, acara segera dimulai. Maung Bandung sebelah kiri, Persija sebelah kanan. Moderator di tengah dan rekan-rekan Solo menyebar untuk bisa secara cepat dan sigap melakukan antisipasi terhadap kegiatan-kegiatan destruktif yang mungkin terjadi. Setyo pun membuka diskusi dengan gaya elegan, hati-hati tapi serius. "Saudara-saudara marilah kita jaga kekompakan, jangan saling  menyalahkan... Sekali lagi saya mohon supaya kita bisa bekerja sama, tanggalkan ego masing.....ayo kita bersatu dll. dll.. Belum lama Setyo menyampaikan ular-ularnya yang bijak penuh want-wanti dan nasehat tentang persatuan dan kesatuan Indonesia. Gacuk langsung menyambar podium, untuk sementara mencoba mengendalikan pertemuan melurusan ke khitah yang telah disepakati.. Bak seorang anggota khusus pasukan elit marinir yang bergerak sangat cepat ingin menyelesaikan permasalahan. Apa daya beliau tidak berdaya menghadapi serbuan kenakalan anak-anak Jakarta dan Bandung yang semakin menggila, saling debat, saling serang, saling menjatuhkan. Dokter Dewi kehilangan kata-kata yang ingin dituangkan sebagai notulensi rapat. Jeng Tutik mulai gemetar was-was sambil berujar :" iki wis podo tuwo kok koyo ngene to... mbok yo podo Istighfar..." Puncaknya adalah ketika komandan Jakarta, Ferry, tiba-tiba meninggalkan arena pertemuan. Walk out. Semua kaget, semua tercengang, semua diam. Iki piye to ?!? Emosi maung Bandung muncrat... Gepeng protes kepada Isnadi tentang kelakuan Ferry yang terlihat tidak menjunjung etika sopan santun nilai-nilai ketimuran. Nopiek bahkan langsung berdiri mau nyusul keluar untuk membuat perhitungan 'aple to aple' dengan Ferry di luar arena. Hanya berkat kesigapan Gacuk lah, Nopiek bisa dijinakkan. Sehingga tidak terjadi pertumpahan darah lebih lanjut. Ferry segera dibujuk untuk segera kembali ke ruangan diskusi. Akhirnya dia menjelaskan alasannya kenapa meninggalkan forum dengan tiba-tiba : " Lha wong aku mung arep golek es tape ketan nang wedangan ngarep kuwi kok....., haus nih...!" Wo wo...wo..........!!!

Nampun nampaknya debat kusir tiada berkesudahan, tetap meruncing. Semua was-was. Seto pun tak mampu lagi mrantasi....Bagai putus-asa, akhirnya Ferry menyerahkan kendali kepada sosok yang nampak bersahaja, berilmu, , alim, penuh pesona. Siapa lagi kalau bukan Al Mukarom Al Ustadz Rudi 'Al Jambuli'' Noviardi Al Fayakumbuhi. Kepada beliau dimintakan pendapat, nasihat, petuah, bahkan kalau perlu fatwa ! Beliau diminta memutuskan berdasarkan azas manfaat dan mudharat yang dihasilkan, apakah kegiatan Reuni ini diteruskan atau dihentikan. Dihalalkan atau diharamkan. Dengan penuh wibawa al ustadz mengambil alih podium. Semua menunggu, berharap, cemas... Ustdz mulai berbicara sambil tak lupa mengelus-ngelus jenggotnya yang panjang dan berjambul-jambul juga itu. Dengan manggut-manggut berujar : "Saudara-saudaraku yang beriman dan bertakwa.... marilah kita semua merendahkan diri, marilah kita kembali kejalan yang lurus... ke jalan yang benar...." Belum dua menit al ustadz mengeluarkan tausiyahnya, eee...lha tiba tiba Atok van Bandung dengan nakal kurang parayogo menginterupsi Ustadz Jambul. "Mbul... sak jane kowe ki ngerti permasalahane opo ora to...? Yen ora ngerti wis menengo wae...!!! Wah kurang ajar tenan ki bocah..... batin Ustadz. Bagimanapun mendapat serangan seperti ini beliau nampak sedikit kehilangan konsentrasi, sedikit kehilangan kata-kata. Namun berkat pengalaman hidup yang sangat kaya dengan warna warni perjuangan, dengan arif dan tawadu' beliau akhirnya tetap mampu menunjukkan hadirin yang sudah mulai skeptis, pesimis,  kepada jalan yang terang - dalan sing padhang untuk bisa menyelesaikan segala carut marut persoalan reuni. "Saudaraku, saya sangat maklum ego kalian ini sangat tinggi dan rasa ingin mau menang sendiri ini begitu begitu besar sehingga hal-hal sepele seperti ini menjadi berlarut-larut. Hanya satu yang bisa membereskan semua hal ini, apa itu ? Itulah kelembutan hati seorang Ibu, yang selalu mengasihi, menyayangi, mengayomi, menentramkan...." Semua terhenyak, terbengong-bengong, menunggu kata-kata ustadz selanjutnya. " Ibu-ibu yang hadir di sini, khususnya saya meminta kesediaan Ibu dokter Dewi untuk mewakili, tolong diberikan keputusan apakah sebaiknya kegiatan reuni nanti itu diteruskan atau dihentikan ???!!! Dewi pun terkaget-kaget mendengar tembakan seperti. Sebagai seorang dokter spseialis THT, beliau segera menguasai keadaan. Telinga dengan jernih mampu mendengarkan aspirasi-aspirasi positif dari teman-teman yang terus berkembang. Hidung mampu mencium aroma tersembunyi semangat perdamaian teman-teman semua. Tenggorokannya ceglak-cegluk segera pengin ketemu temen-temen pada reuni perak nanti. Akhirnya beliau ngendiko : "Temen-temen yang aku sayangi semua, tolong semuanya komit, marilah kita akhiri pertentangan ini, sing wis yo wis... Mari kita mulai babak baru mulai hari ini untuk melanjutkan kebaikan-kebaikan........" Belum sempat dokter Dewi merampungkan pendapatnya, eh lha kok Atok van Bandung malah interupsi lagi....opo meneh to iki...? "Wis Wik, ora sah kesuwen Bu Dewi.... ora sah mbulet.....dijawab wae diteruske opo ora ? Yen diteruske yo padha manut yen ora yo manut !" Dengan sigap untuk mengindari perpecahan yang sudah di depan mata, di ujung tanduk... beliau menjawab dengan tegas sekali : "Lanjutkan !!, Lebih cepat lebih baik !! Mendengar jawaban dari Bu Dokter itu, sekonyong-konyong, seketika itu... Gepeng dan Ferry langsung bangkit berdiri ke tengah arena.  Bersalaman, berangkulan, cipika-cipiki, saling senyum tertawa. Hal yang sama langsung diikuti oleh anggota geng Bandung dan Jakarta serta semua peserta pertemuan Colomadu.... Mereka tertawa  cekikikan. Sementara hadirin lain bengong, bingung, heran... iki maksude opo to, karepe apa sih ? Kok dadine kaya ngene aneh tapi ajaib... Untuk tidak memperpanjang rasa penasaran temen-teman 'yang tidak tahu apa-apa' Ferry segera menjelaskan bahwa sebenarnya 'perdamaian' telah terjadi, tidak ada masalah yang mengganjal dan mari kita segera membahas agenda pelaksanaan reuni perak nanti dengan membentuk kepanitiaan. Sambil menjelaskan bahwa 'sandiwara' memang telah dirancang untuk memberikan kejutan kepada tema-teman semua.

Setyo misuh-misuh, demikian juga Gacuk. Koji yang terheran-heran dengan drama ini cuma bisa bilang : Asyemmm ! Titenono Blonthank, suk mben tak bales kowe...! Tapi semuanya akhirnya bergembira tertawa-tawa. Saling membahas reaksi temen-temen yang nggak tahu tentang sandiwara ini. Ngakak-ngakakan, ger-geran sambil menghabiskan apa saja yang ada di meja wedangan. Jeng Tutik sebagai tuan rumah bersyukur tidak sampai terjadi apa-apa, sambil segera mengeluarkan es krim kotak mak nyus yang langsung diserbu temen-temen semua. Ger-geran berlanjut sampai jam setengah satu pagi.

Terima kasih teman-teman semua atas momen sangat menyenangkan ini nan tak terlupakan. Sorrry bangeeets ..... untuk temen-temen sing wis kapusan pol-polan....

The End....

By Gepeng

Foto-foto saged dipirsani wonten ing : PICASA lan FACEBOOK



Powered by jWarlock jwFacebook Comments
Last Updated on Sunday, 24 May 2009 13:30