Alumni 1984 SMA Negeri 1 Solo

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home

Apa kabar Guru-guru kita dahulu ? Sebuah renungan, dari alumni untuk alumni.

E-mail Print PDF

Saya mendapatkan email dari seorang teman alumni, yang berisi masukan untuk reuni perak kita. Namun yang bersangkutan tidak mau mepublikasikan emailnya di forum alumni. Karena menurut saya isinya sangat positif, saya terpaksa menyebarkannya dengan harapan dapat menjadi pertimbangan bagi kita semua sebagai salah satu rangkaian kegiatan Reuni Perak Alumni SMAN 1 Solo Angkatan 1984. Isi email saya edit seperlunya untuk kenyamanan bersama.

Dear Budi,

Thanks untuk emailnya.  Kalau aku tidak salah menangkap pembicaraan hari minggu (melalui saluran telkomsel yg putus2 he he) alumni angkatan 84 akan menyumbangkan sesuatu dalam bentuk fasilitas kepada SMAN-1 Solo

Kalau yang di atas benar, saya tentu saja tidak melarang atau menganjurkan. Tetapi berikut ini adalah pandangan saya:

- Kewajiban menyediakan sarana pendidikan dan pengajaran adalah kewajiban pemerintah yang harus dilakukan secara konsisten dan dalam skala nasional.

- Saya mendukung hal tersebut, tapi saya mau "mengangkat" suatu issue yang penting:

yaitu perhatian kepada guru2, pensiunan guru2 dan guru2 kita yang jelas tidak akan diperhatikan oleh pemerintah dan jelas akan sulit untuk mencari akses sendiri.

Saya dan alumni SMP sy sudah menjalani hal ini, kami memutuskan tidak membantu sekolah, bukan karena dendam atau sakit hati - tapi karena mestinya yang tanggung jawab pemerintah bukan kita.  Tapi kepada guru2 kita - sangat pantas kalau kita menunjukkan apresiasi dalam bentuk apapun juga yang sebesar-besarnya!

Sekitar seminggu yang lalu, saya ada di Solo, seperti biasa, salah satu kesenangan saya adalah "jenang gudheg" yang di Margoyudan (Yu Karni).  Saya makan sekitar jam 5 pagi.  Ada orang lain makan di sudut dari warung emperan itu dan ternyata adalah guru matematika dari kakak saya (dari sekolah lain) tapi saya mengenal dengan baik.

Kondisinya: ya sudah pensiun, nggak ada yang memperhatikan apalagi mengurusi.  Saya terus terang dalam hati marah besar kepada sistem social security yang ada.  Pensiunan guru semacam ini adalah aset yang tak ternilai!  They are better than any other teachers we have now aday!! They are committed, they are excellent people with excellent dedication and they proofed it.  Rasanya benar2 tidak adil karena orang seperti itu sekarang dipinggirkan begitu saja.  Sementara guru2 yang kita miliki sekarang, adalah (sorry to say) orang2 yang tidak diterima masuk ke jurusan2 lain di Indonesia - akhirnya jadi guru dan yang masih nggak diterima jadi guru akhirnya jadi 'Pekerja Religi' (istilah ‘pekerja religi’ dari saya – Budi - untuk mengganti istilah asli yang agak berbau SARA he..he..)  - I am not cynical, it is reality

Bersama dengan teman2 SMP saya, kami menggalang dana untuk memberikan tabungan kepada ex guru2 kami dan mungkin juga kalau bisa lebih besar - memberikan beasiswa kepada anak2nya

Salam hangat


Powered by jWarlock jwFacebook Comments
Last Updated on Tuesday, 28 April 2009 12:49