Alumni 1984 SMA Negeri 1 Solo

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home

Janji Kampanye vs Realita Kehidupan

E-mail Print PDF

Pada masa-masa kampanye caleg, kita bisa melihat disepanjang jalan poster2, baliho dan berbagai material kampanye ingin menarik perhatian publik. Tentunya dengan foto terbaik dari caleg yang menebarkan senyum manis dan beberapa kegiatan sosialnya. Tidak lupa juga dengan janji2 dan slogan kampanye.
Sekolah gratis !!
Pengobatan gratis !!
Berantas korupsi !!
Kami berpihak pada kaum marginal !!
Dalam benak saya, ah ... semoga itu semua benar.

Ketika saya berangan2 atas janji2 itu, terhenyak seorang kawan menelphone dan mengajak bertemu dengan seorang ibu muda, dia seorang mantan model. Saya sedikit heran karena pertemuannya bukan disebuah kafe atau resto, namun di RSCM bagian Perinatologi.

Rupanya dia seorang yang menaruh perhatian pada bayi2 yang dilahirkan bermasalah. Seorang dokter spesialis anak menemaninya, dan saya melihat disekeliling ada sekitar 50 bayi yang bertarung untuk bisa survive hidup di muka bumi ini.

Bayi2 ini sangat menderita, mereka lahir prematur, jantung bocor, sumbing, usus diluar, tak ber-anus, ganguan paru2, terinfeksi aids, bahkan ada diantaranya yang tak memiliki otak. Orang tua mereka sangat miskin, bahkan melarikan diri dari rumah sakit. Beberapa diantara mereka berusaha mencari keterangan miskin namun gagal karena ktp pun tidak punya.

Ada sekitar 8 dokter disitu, dan beberapa suster. Dokter2 itu memiliki gaji sekitar Rp 2.5 juta/bln, namun mereka merelakan seluruh gajinya untuk disumbangkan kepada para suster yang gajinya hanya Rp 700.000,- Sedang dokter2 praktek merogoh koceknya untuk menyumbang bayi2 menderita ini semampu mereka.

Sementara dengung kampanye sangat keras "Pengobatan Gratis !!" di ruangan ini ada dilema, bila digratiskan maka para dokter akan diperiksa sebagai korupsi, bagaimana mempertanggung-jawabkannya ?, namun bila bayar, siapa yang bayar ? atau dibiarkan tidak ditangani ? Nurani tidak bisa menahan untuk tidak menolong mereka.

Di sebuah pojok ruangan, saya melihat 2 gadis menimang-nimang bayi yang lahir tanpa disambut ke dua orang tuanya. Mereka adalah sukarelawan yang dibayar oleh para dermawan.

Mereka semua telah berpeluh dan berjuang untuk menolong bayi2 ini. Sekarang tinggal bagian saya, apakah saya hanya terdiam dan menantikan janji para caleg itu ? ataukah harus merogoh kocek dan mengulurkan tangan bagi mereka ?

Di link ini saya sempat merekam sebagian kecil penderitaan bayi2 itu (note : yang masih layak untuk pemirsa publik) : BORN TO SURVIVE, BORN TO BE LOVED.

 


Powered by jWarlock jwFacebook Comments
Last Updated on Wednesday, 15 April 2009 11:27